SEKOLAH ADIWIYATA : BUKAN SEKEDAR LABEL TAPI KE AKSI NYATA
Oleh : Wiwik dwi Erminingsih, S.Pd,M.Pd
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk generasi muda yang bertanggungjawab terhadap lingkungan. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan ini adalah melalui program sekolah Adiwiyata.
Sekolah Adiwiyata adalah program positif untuk membangun budaya peduli lingkungan sejak dini, namun sering kali terjebak menjadi sekadar ajang pengejaran penghargaan (label) daripada aksi nyata berkelanjutan. Meski berpotensi menciptakan lingkungan sehat dan meningkatkan kepedulian siswa, keberhasilannya sangat bergantung pada komitmen jangka panjang, bukan hanya saat penilaian.
Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang menerapkan hidup peduli lingkungan. Sekolah Adiwiyata bertujuan menyadarkan warga sekolah akan lingkungan sehingga dapat turut bertanggung jawab dalam penyelamatan lingkungan. Program adiwiyata merupakan upaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup di sekolah melalui gerakan peduli dan berperilaku ramah lingkungan dalam mewujudkan sekolah yang berbudaya lingkungan.
Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) merupakan inisiatif strategis yang ditegaskan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 5 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan program adiwiyata menggantikan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 52 Tahun 2019 sebagai pengembangan dari program adiwiyata. Saat ini adiwiyata menjadi bentuk penghargaan bagi sekolah yang berhasil menerapkan prinsip-prinsip PBLHS dalam keseharian mereka.
Lebih dari sekadar program, PBLHS ialah aksi nyata yang mendorong sekolah untuk membentuk perilaku ramah lingkungan di kalangan warga sekolah sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan di dalam dan sekitar sekolah. Pendidikan lingkungan dalam konteks ini bertujuan menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, serta kepedulian kolektif terhadap isu-isu lingkungan demi keberlanjutan hidup dan pembangunan masa depan.
Sekolah selain sebagai tempat terlaksananya kegiatan belajar mengajar, juga merupakan sebagai tempat yang sangat potensial terciptanya ide-ide kreatif bagi para warga sekolah. Baik itu guru, murid maupun dinas terkait. Sekolah sebagai tempat menimba ilmu maka para warganya memungkinkan untuk melakukan inovasi-inovasi baru bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan. Sehingga sekolah tidak hanya sebagai tempat rutinitas penyampaian materi pelajaran dari guru kepada anak didik. Berkembangnya ilmu pengetahuan harus berasal dari sekolah. Artinya bahwa sekolah memiliki peran yang sangat potensial bagi tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan.
Selain dari pada itu bahwa sekolah juga dituntut untuk memberikan ide-ide inovatif dalam perannya sebagai lembaga pendidikan yang peduli terhadap lingkungan hidup. Sekolah wajib memberikan contoh dan tolak ukur bagi terciptanya lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Seluruh warga sekolah memiliki kewajiban untuk menciptakan dan menjaga lingkungan sekolah dan sekitarnya yang bersih dan sehat.
Untuk merealisasikan upaya menciptakan sekolah yang berinovasi dalam ilmu pengetahuan dan sebagai lembaga pendidikan yang peduli lingkungan hidup yang bersih dan sehat, maka dicanangkanlah program Adiwiyata Sekolah. Program adiwiyata dikembangkan berdasarkan norma-norma dalam berperikehidupan yang meliputi: kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam. Tujuannya adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah agar menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah untuk ikut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan.
Tujuan program adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid dan pekerja lainnya), sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Prinsip-prinsip dasar adiwiyata adalah partisipatif dan berkelanjutan. Partisipatif artinya komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran. Sedangkan berkelanjutan artinya seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif.
Sisi positip dari sekolah adiwiyata adalah pada pembentukan karakter, lingkungan belajar kondusif,edukasi praktis dan penghematan sumber daya. Pembentukan karakter bisa mengubah perilaku warga sekolah (siswa, guru, staf) menjadi lebih peduli lingkungan, seperti pengelolaan sampah, penghematan energi, dan penghijauan. Lingkungan belajar kondusif akan terciptanya suasana sekolah yang asri, bersih, dan indah, yang mendukung proses belajar mengajar. Edukasi praktis dimana siswa mendapatkan pengalaman langsung (hands-on) melalui program seperti budidaya hidroponik, pembuatan kompos, dan pemilahan sampah dan sebagainya. Penghematan Sumber Daya: Sekolah lebih efisien dalam penggunaan air dan listrik, yang juga berdampak pada penghematan dana.
Tantangan dari penyelenggaraan sekolah adiwiyata adalah keterjebakan pada formalitas: Banyak sekolah fokus pada pemenuhan dokumen dan fisik semata untuk mendapatkan penghargaan, tetapi budaya lingkungan hilang setelah tim penilai pergi. Beban administratif: Program ini kadang menambah beban kerja guru karena dituntut melengkapi berbagai dokumen pendukung di samping tugas pengajaran. Keberlanjutan Program: Seringkali kegiatan berhenti di tengah jalan jika tidak ada inisiatif kuat dari kepala sekolah atau komunitas sekolah.
Kesimpulannya adalah Program Adiwiyata idealnya tidak dipandang sebagai kompetisi, melainkan sebuah kewajiban moral lembaga pendidikan untuk mendidik generasi yang ramah lingkungan. Agar efektif, fokus utamanya harus pada penanaman nilai (culture ). Program adiwiyata memiliki peranan yang sangat penting dalam membina karakter peduli lingkungan siswa di SMP Negeri 3 Maospati, karena dalam melakukan pembinaan karakter peduli lingkungan program adiwiyata menggunakan seluruh elemen yang ada di sekolah seperti kebijakan, kurikulum, kegiatan dan sarana prasarana. Selain itu, program adiwiyata juga melibatkan seluruh warga sekolah, siswa, guru, staf karyawan, kepala sekolah hingga para pedagang di kantin dan di sekitar sekolah.
Dengan program adiwiyata tidak hanya menciptakan dampak sesaat. Perubahan sosial yang terjadi di SMP Negeri 3 Maospati menunjukkan potensi perubahan yang berkelanjutan. Siswa yang dulu tidak peduli terhadap lingkungan kini menjadi agen perubahan di keluarga dan komunitas mereka. Banyak di antara mereka yang mulai menerapkan kebiasaan baik di rumah, seperti memilah sampah dan menghemat air. Para orang tua berharap, melalui pendidikan lingkungan ini mereka telah membantu menciptakan generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan dan masa depan bumi.
Lebih dari sekadar program, PBLHS ialah aksi nyata yang mendorong sekolah untuk membentuk perilaku ramah lingkungan di kalangan warga sekolah sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan di dalam dan sekitar sekolah. Pendidikan lingkungan dalam konteks ini bertujuan menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, serta kepedulian kolektif terhadap isu-isu lingkungan demi keberlanjutan hidup dan pembangunan masa depan.
Setiap daerah atau institusi pendidikan dapat memiliki istilah atau pendekatan tersendiri dalam menjalankan prinsip serupa seperti SMP Negeri 3 Maospati yang mengembangkan program unggulan green school project (GSP) sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Green school project (GSP) menjadi program unggulan SMP Negeri 3 Maospati dalam menciptakan lingkungan sekolah yang hijau dan sehat dengan target utama mengurangi hingga menghilangkan penggunaan plastik.
Untuk memastikan keberlanjutannya, dibentuk tim khusus yang merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Meski telah berjalan dengan baik, program tersebut menghadapi tantangan seperti rendahnya kesadaran lingkungan, keterbatasan sumber daya serta integrasi isu lingkungan dalam kurikulum yang belum maksimal.
Dukungan dari orangtua dan masyarakat juga masih perlu diperkuat agar program tersebut lebih efektif. Mengubah kebiasaan yang merusak lingkungan bukanlah hal instan, tetapi membutuhkan komitmen jangka panjang agar budaya ramah lingkungan benar-benar tertanam dalam kehidupan sehari-hari.
Program peduli lingkungan menghadapi berbagai hambatan yang memerlukan strategi dan komitmen untuk diatasi. Salah satu kendala utama ialah resistansi terhadap perubahan yang mana beberapa pihak masih merasa kesulitan beradaptasi dengan kebiasaan ramah lingkungan. Selain itu, dukungan orangtua siswa sangatlah penting agar program tersebut dapat berjalan optimal. Tantangan lainnya ialah keterbatasan waktu dan komitmen karena jadwal akademik yang padat menyulitkan guru dan murid untuk rutin menjalankan kegiatan lingkungan. Tantangan lainnya muncul dari kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai isu lingkungan serta cara efektif untuk menjaganya, baik di kalangan tim pelaksana maupun warga sekolah secara keseluruhan. Semua faktor itu menjadi tantangan yang perlu dihadapi dengan strategi yang tepat agar program peduli lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata.
Untuk memastikan keberhasilan program peduli lingkungan, sekolah menerapkan berbagai strategi yang melibatkan seluruh warga sekolah. Kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan terus ditanamkan melalui kampanye, sosialisasi, dan edukasi yang berkelanjutan agar isu lingkungan menjadi bagian dari keseharian. Pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien serta integrasi materi lingkungan dalam pembelajaran juga menjadi langkah penting untuk membekali siswa dengan pemahaman dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Selain itu, sekolah membentuk tim khusus yang terdiri atas guru dan murid untuk merancang serta mengawal program secara berkelanjutan dengan rencana kerja yang jelas. Guru dan staf sekolah juga berperan sebagai teladan dalam menjaga lingkungan, memperkuat komitmen yang diharapkan dapat menginspirasi siswa. Untuk memperluas dampak program, sekolah menjalin kerja sama dengan organisasi lingkungan dan pemerintah guna mendapatkan dukungan yang lebih luas. Dengan berbagai upaya itu, diharapkan GSP dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekolah serta masyarakat sekitar. Untuk mengatasi tantangan tersebut, SMP Negeri 3 Maospati mengadopsi strategi yang lebih luas dalam integrasi pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum dan kebijakan zero waste plastic. Di tengah dinamika perubahan kurikulum yang terus berlangsung, SMP Negeri 3 Maospati menghadirkan pendekatan pendidikan yang unik dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar sekolah hijau, institusi itu mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam berbagai aspek pembelajaran dan kehidupan sekolah. Jika konsep sekolah hijau sering dikaitkan dengan kegiatan menanam pohon dan penghematan energi, bagi SMP Negeri 3 Maospati , hal itu merupakan perubahan paradigma dalam pendidikan.
Sekolah berperan aktif dalam membekali siswa dengan pemahaman mendalam tentang isu lingkungan serta hubungan erat antara manusia dan alam. Keseriusan SMP Negeri 3 Maospati dalam menangani perubahan iklim tecermin dalam upaya mereka mendorong para guru untuk mengintegrasikan isu tersebut dalam proses pembelajaran sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan lingkungan sekitar.
Selain itu, sekolah menjalin kemitraan dengan berbagai institusi, baik di dalam maupun diluar dinas terkait. SMP Negeri 3 Maospati membuktikan bahwa sekolah adiwiyata bukan sekadar label , melainkan investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang sadar akan keberlanjutan dan siap berkontribusi dalam menjaga kelestarian hidup. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga karakternya dibentuk agar menjadi agen perubahan melalui kebijakan zero waste plastic. Kantin sekolah tidak lagi menyediakan wadah plastik atau sterofoam, sementara siswa diwajibkan membawa tumbler dan peralatan makan sendiri. Langkah itu mengurangi limbah plastik sekaligus menanamkan kebiasaan ramah lingkungan, menegaskan bahwa perubahan kecil dapat berdampak besar bagi kelestarian lingkungan.
Keberhasilan meraih predikat sekolah adiwiyata bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam membentuk generasi peduli lingkungan. Pencapaian itu bukanlah akhir, melainkan motivasi untuk terus mengembangkan pendidikan lingkungan sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah. Bagi SMP Negeri 3 Maospati , menjadi sekolah adiwiyata bukan sekadar tujuan, melainkan sebuah pengakuan atas upaya berkelanjutan dalam menanamkan kesadaran lingkungan bagi seluruh warga sekolah.